KARUBAGA, TOLIKARA — Suasana penuh sukacita dan rasa syukur menyelimuti Lembah Toli, Kabupaten Tolikara, saat ribuan jemaat memadati Lapangan Merah Putih Karubaga, Selasa (14/4/2026), dalam Ibadah Akbar memperingati 69 tahun Injil masuk di wilayah tersebut.
Ibadah yang digelar oleh Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Wilayah Toli ini menjadi momentum penting, tidak hanya sebagai perayaan iman, tetapi juga peneguhan sejarah masuknya Injil di Lembah Toli pada 14 April 1957.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Tolikara Willem Wandik, jajaran Forkopimda, para hamba Tuhan, serta ribuan jemaat dari berbagai wilayah yang datang dengan penuh antusias.
Mengusung tema “Warisan Iman yang Berbuah” (Mazmur 145:4–7), ibadah ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan meneruskan iman yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Firman Tuhan disampaikan oleh Penasehat Presiden GIDI, Pendeta Liwit Kogoya, yang juga merupakan salah satu saksi hidup penerima Injil pada masa awal. Dalam khotbahnya, ia mengajak jemaat untuk tetap setia kepada Yesus Kristus di tengah perkembangan zaman.
Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga sejarah iman, hidup dalam firman Tuhan, serta aktif dalam pelayanan penginjilan melalui doa, tenaga, dan dukungan.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa tanah yang kini ditempati merupakan “tanah Injil”, sehingga setiap lahan yang telah dipersembahkan bagi gereja harus dijaga dan digunakan sesuai peruntukannya sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan.
Sejarah masuknya Injil di Lembah Toli turut dibacakan oleh Sekretaris Wilayah Toli, Pendeta Aten Yikwa. Ia menjelaskan bahwa Injil pertama kali dibawa oleh misionaris RBMU, Paul Gesswen bersama rekannya Widbin yang tiba di Karubaga pada 14 April 1957.

Sejak saat itu, Injil terus berkembang dan membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, dari kehidupan tradisional menuju kehidupan yang dilandasi nilai kasih, damai, dan pengharapan.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah tersebut, Badan Pekerja Wilayah Toli secara resmi mendeklarasikan 14 April sebagai Hari Injil Masuk di Toli yang akan diperingati setiap tahun.
Dalam sambutannya, Bupati Tolikara Willem Wandik menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum iman yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat.

“Perayaan HUT Injil Masuk di Toli ke-69 tahun bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi merupakan momentum iman dan spiritual untuk mengenang karya Tuhan yang telah mengubah kehidupan masyarakat Tolikara,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Injil kini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah rohani, tetapi telah menjadi fondasi moral dalam kehidupan bermasyarakat dan pembangunan daerah.
Bahkan, Pemerintah Kabupaten Tolikara secara resmi menetapkan Tolikara sebagai “Tanah Injil yang damai” dalam dokumen RPJMD 2025–2029, sebagai bentuk pengakuan terhadap peran Injil dalam membentuk karakter dan arah pembangunan masyarakat.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga harus memperkuat iman, moral, dan nilai kemanusiaan.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga warisan iman tersebut dengan memperkuat persatuan, menghormati para perintis Injil, serta menyiapkan generasi muda yang beriman dan berkarakter.
Sementara itu, Ketua Wilayah Toli, Pendeta Yeremias Wandik, menyebut peringatan ini sebagai momen bersejarah karena untuk pertama kalinya dideklarasikan secara resmi sebagai agenda tahunan.
Ia menjelaskan bahwa ibadah dilaksanakan secara serentak di 17 klasis wilayah Toli sebagai bentuk kesatuan iman. Adapun persembahan yang terkumpul, baik dalam bentuk uang maupun hasil bumi, akan digunakan untuk mendukung pelayanan penginjilan di dalam maupun luar daerah.
Perjalanan 69 tahun Injil di Lembah Toli menjadi bukti bahwa iman, pengorbanan, dan kasih terus hidup dari generasi ke generasi.
Deklarasi ini pun menjadi penanda bahwa terang Injil akan terus bersinar di Tanah Toli—kini dan di masa yang akan datang. (Diskomdigi Tolikara)








