Douw, Tolikara — Semangat kebangkitan perempuan sebagai pilar utama pembangunan daerah kembali digaungkan di Kabupaten Tolikara. Pemerintah daerah terus memperkuat peran perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga, melalui berbagai program strategis yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Komitmen tersebut ditandai dengan pelaksanaan Konferensi Pertama Perempuan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Klasis Mamsoi Distrik Wari, yang berlangsung meriah, penuh kebersamaan, dan sarat makna pada Sabtu, 21 Maret 2026, di Distrik Douw.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati Tolikara, Willem Wandik, didampingi Wakil Bupati Yotam Wonda, unsur Forkopimda, pimpinan OPD, serta tokoh organisasi kepemudaan dan masyarakat. Kehadiran para pemimpin daerah ini menjadi bukti nyata dukungan penuh terhadap kebangkitan perempuan di Tolikara.
Tidak hanya menjadi ajang pertemuan, kegiatan ini juga dirangkai dengan berbagai program unggulan, di antaranya Festival Sagu Tolikara, peluncuran Program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), serta kunjungan Bunda PAUD ke sekolah-sekolah. Seluruh rangkaian kegiatan ini menegaskan bahwa pembangunan Tolikara tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemerintah Kabupaten Tolikara melalui Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak dan KB ibu Devece pagawak bersama Ketua TP-PKK Ny. Elisabeth F. Wandik menyalurkan bantuan sebesar Rp100 juta, ditambah dukungan dari Ketua Gabungan Organisasi Wanita GOW Ny. Reni W. Wonda sebesar Rp20 juta. Selain itu, bantuan pendidikan berupa tas dan seragam sekolah serta pelayanan kesehatan gratis juga diberikan kepada masyarakat.
Ketua TP-PKK Kabupaten Tolikara Ny. Elisabeth F. Wandik dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mendorong perempuan agar lebih mandiri secara ekonomi.

Dengan mengusung tema “Perempuan Berdaya, Keluarga Sejahtera”, perempuan Tolikara didorong untuk mengembangkan potensi lokal, seperti mengolah sagu menjadi berbagai produk makanan, membuat kerajinan tangan khas daerah, hingga menciptakan produk kreatif bernilai jual tinggi.
Ketua TP-PKK Ny. Elisabeth F. Wandik juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir dan kesiapan perempuan dalam mengelola ekonomi keluarga. Mama-mama diharapkan tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pelaku usaha yang mampu menciptakan peluang ekonomi baru.

“Ketika ada kegiatan atau kunjungan di daerah, mama-mama harus siap berjualan hasil karya sendiri. Di situlah ekonomi akan berputar dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” ujarnya.
Program 1000 HPK yang diluncurkan juga menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi Tolikara yang sehat, cerdas, dan berkualitas. Melalui program ini, kebutuhan gizi anak dan ibu hamil diperhatikan, sekaligus membuka peluang pasar bagi hasil pertanian lokal masyarakat.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Tolikara berkomitmen untuk menjadikan Distrik Douw sebagai pusat ekonomi berbasis sagu, sekaligus pusat pengembangan sumber daya manusia. Produk-produk lokal hasil karya perempuan akan dipromosikan hingga ke tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional.
Bupati Tolikara, Willem Wandik, dalam arahannya mengapresiasi antusiasme masyarakat, khususnya kaum perempuan, yang telah menunjukkan semangat luar biasa dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Bupati Willem wandik mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga semangat kebersamaan dan aktif mendukung program pemerintah daerah.
“Perempuan adalah kekuatan besar dalam pembangunan. Jika perempuan bangkit, maka keluarga kuat, dan Tolikara pasti maju,” tegas Bupati.
Dengan semangat perempuan berdaya, Tolikara kini melangkah pasti menuju masa depan yang lebih mandiri, sejahtera, dan berdaya saing, dimulai dari kampung-kampung hingga ke tingkat yang lebih luas. (Diskomdigi Tolikara) *











