Pesan Bupati Tolikara Dalam Rangka Perayaan Jumat Agung Tahun 2026

Fokus, GIDINews, Religi18 Dilihat

Tema: “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita”
(2 Korintus 5:17)

Shalom,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Yang saya hormati:

Para hamba Tuhan dan pimpinan gereja.

Para tokoh adat dan tokoh masyarakat.

Para Tokoh pemuda, perempuan, dan seluruh umat Kristiani di Kabupaten Tolikara yang saya kasihi.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan.

Pada hari yang kudus ini, kita berkumpul dalam suasana yang penuh keheningan dan penghayatan iman untuk memperingati Jumat Agung, hari ketika Tuhan kita Yesus Kristus menyerahkan diri-Nya di kayu salib demi keselamatan umat manusia.

Jumat Agung bukan sekadar peristiwa sejarah iman.

Jumat Agung adalah panggilan moral dan panggilan kemanusiaan—untuk melihat penderitaan, memahami pengorbanan, dan memperbarui kehidupan kita sebagai manusia.

Tema Paskah tahun ini yang diangkat oleh Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, yaitu:

“Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita” (2 Korintus 5:17)

Ini mengajak kita semua untuk menyadari bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya kemenangan atas kematian, tetapi juga undangan untuk menjadi manusia baru—manusia yang hidup dalam kasih, keadilan, dan pengharapan.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan.

Perayaan Jumat Agung tahun ini kita jalani dalam situasi dunia yang tidak mudah.

Per April tahun 2026, dunia sedang menghadapi berbagai tantangan besar yang menguji kemanusiaan kita.

Kita menyaksikan: Ketegangan geopolitik dan konflik militer di berbagai kawasan dunia.

Krisis energi global yang berdampak pada harga kebutuhan hidup masyarakat.

Lonjakan migrasi manusia akibat konflik, kemiskinan, dan ketidakamanan.

Ancaman perubahan iklim dan bencana alam yang semakin sering terjadi.

Semua ini menunjukkan bahwa dunia kita sedang berada dalam masa penuh kegelisahan dan ketidakpastian.

Namun dalam terang iman Kristiani, kita percaya bahwa:

Di tengah kegelapan, selalu ada harapan. Di tengah penderitaan, selalu ada jalan pemulihan.

Jumat Agung mengajarkan kepada kita bahwa pengorbanan yang tulus dapat melahirkan kehidupan yang baru.

Saudara-saudari yang saya kasihi.

Jika kita melihat lebih dekat pada kehidupan masyarakat di Tanah Papua, kita juga menyadari bahwa tantangan yang kita hadapi tidak kalah berat.

Di berbagai wilayah Tanah Papua, termasuk daerah pegunungan, masyarakat masih menghadapi:

Situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil. Peristiwa kekerasan yang menimbulkan korban jiwa. Pengungsian masyarakat akibat konflik. Keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan. Tingginya biaya hidup dan kemiskinan. Bencana dan insiden yang menimbulkan duka bagi keluarga-keluarga kita.

Semua kenyataan ini adalah salib kehidupan yang nyata bagi masyarakat Papua hari ini.

Namun sebagai umat beriman, kita tidak boleh kehilangan harapan. Karena iman Kristiani mengajarkan bahwa:

Salib bukan akhir dari perjalanan. Salib adalah jalan menuju kebangkitan.

Saudara-saudari yang terkasih.

Makna terdalam dari Jumat Agung adalah pengorbanan demi keselamatan orang lain.

Yesus Kristus menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kekuasaan, tetapi pada: Kasih, Pengampunan, Kerendahan hati, Kepedulian terhadap sesama.

Dalam konteks kehidupan masyarakat kita di Tolikara, pembaruan kemanusiaan berarti: Menghentikan kekerasan, Menolak kebencian, Menjaga persatuan, Melindungi kehidupan, Menguatkan solidaritas sosial dan Membantu mereka yang lemah dan menderita. Karena pembangunan yang sejati bukan hanya membangun jalan dan gedung, tetapi juga membangun hati dan karakter manusia.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan.

Sebagai Pemerintah Daerah Kabupaten Tolikara, kami menyadari bahwa tugas utama pemerintah bukan hanya mengelola administrasi, tetapi juga menjaga kehidupan dan martabat manusia.

Oleh karena itu, dalam semangat Jumat Agung di Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Tolikara berkomitmen untuk: 

Menjaga dan menumbuhkan kemanusiaan di Tanah Injil Tolikara, melalui penguatan nilai-nilai religius, pembinaan kehidupan iman, serta penguatan solidaritas sosial sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang saling menghormati, saling menolong, dan saling menjaga martabat sesama manusia.

Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat secara adil dan humanis, dengan mengedepankan pendekatan dialog, perlindungan terhadap masyarakat sipil, serta penegakan hukum yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Memperkuat pelayanan kesehatan dan pendidikan di wilayah-wilayah terpencil, agar setiap warga, tanpa terkecuali, memiliki akses yang layak terhadap layanan dasar yang bermutu sebagai hak fundamental manusia.

Melindungi masyarakat yang rentan, termasuk perempuan, anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang menghadapi musibah dan pengungsian, melalui kehadiran negara yang nyata, cepat, dan penuh kepedulian.

Mendorong pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat hingga ke daerah terpencil dan terisolir, sehingga tidak ada satu pun wilayah di Kabupaten Tolikara yang tertinggal dalam pembangunan dan pelayanan publik.

Membangun kemandirian dan ketahanan sosial yang tangguh di Kabupaten Tolikara, agar masyarakat mampu bertahan menghadapi bencana dan situasi darurat, mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri melalui penguatan pertanian lokal,

serta mampu mengatasi dampak dari dinamika global—seperti krisis ekonomi, perubahan iklim, dan gangguan pasokan—yang turut mempengaruhi daya tahan daerah.

Membangun dialog dan rekonsiliasi sebagai jalan menuju perdamaian, dengan semangat menciptakan Tanah Injil yang damai, aman, dan memanusiakan manusia, di mana setiap perbedaan diselesaikan melalui musyawarah, saling pengertian, dan komitmen bersama untuk menjaga kehidupan.

Karena kami percaya:

Membangun kemandirian dan ketahanan sosial yang tangguh di Kabupaten Tolikara, agar masyarakat mampu bertahan menghadapi bencana dan situasi darurat, mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri melalui penguatan pertanian lokal, serta mampu mengatasi dampak dari dinamika global—seperti krisis ekonomi, perubahan iklim, dan gangguan pasokan—yang turut mempengaruhi daya tahan daerah.

Membangun dialog dan rekonsiliasi sebagai jalan menuju perdamaian, dengan semangat menciptakan Tanah Injil yang damai, aman, dan memanusiakan manusia, di mana setiap perbedaan diselesaikan melalui musyawarah, saling pengertian, dan komitmen bersama untuk menjaga kehidupan.

Karena kami percaya:

Seorang guru yang mengajar di daerah terpencil—itu adalah pengorbanan.

Seorang tenaga kesehatan yang melayani masyarakat—itu adalah pengorbanan.

Seorang petani yang bekerja di kebun demi keluarga—itu adalah pengorbanan.

Semua pengorbanan kecil ini adalah bagian dari karya kasih Tuhan di tengah dunia.

Dan semua itu adalah bentuk nyata dari pembaruan kemanusiaan.

Saudara-saudari yang saya kasihi.

Pada hari Jumat Agung ini, saya mengajak kita semua untuk melakukan refleksi bersama:

Apakah kita sudah hidup sebagai manusia yang baru.

Apakah kita sudah saling mengasihi dan menghormati.

Apakah kita sudah menjadi pembawa damai di tengah masyarakat..

Karena pembaruan dunia tidak dimulai dari tempat yang jauh.

Pembaruan dunia dimulai dari hati manusia.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan.

Akhirnya, melalui peringatan Jumat Agung tahun ini, marilah kita memperkuat iman, memperteguh harapan, dan memperluas kasih kepada sesama.

Mari kita jadikan pengorbanan Kristus sebagai inspirasi untuk:

membangun kehidupan yang lebih baik.

menjaga persatuan masyarakat.

merawat kedamaian di Tanah Papua.

dan menciptakan masa depan yang penuh harapan bagi generasi yang akan datang.

Karena kita percaya bahwa:

Kasih lebih kuat daripada kebencian.

Pengampunan lebih kuat daripada dendam.

Dan harapan lebih kuat daripada ketakutan.

Tuhan memberkati kita semua.

Tuhan memberkati Tanah Injil – Kabupaten Tolikara — Tanah Papua.

Shalom.. 

Wa… Wa… Yaki… Yaki.. 

Willem Wandik S.Sos

Bupati Tolikara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *