Pemkab Tolikara Matangkan Arah Pembangunan Pariwisata Lewat Seminar Akhir RIPPDA dan RIPOW 2026–2029

Fokus, Pemerintahan81 Dilihat

Karubaga – Pemerintah Kabupaten Tolikara menggelar Seminar Laporan Akhir Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPDA) dan Rencana Induk Pengembangan Objek Wisata Religi (RIPOW) Kabupaten Tolikara Tahun 2026–2029 pada 17 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menata arah pembangunan pariwisata daerah secara terencana, terukur, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat Tolikara sebagai destinasi wisata berbasis religi, budaya, dan alam di Papua Pegunungan.

Seminar tersebut dihadiri Wakil Bupati Tolikara Yotam Wonda, S.H., M.Si, didampingi Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Tolikara Dr. Imanuel Gurik, S.E., M.Ec.Dev, serta diikuti Kepala Dinas Lingkungan Hidup dr. Demus Kogoya, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Terry Jolly Yikwa, S.E., dan sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah terkait. Kehadiran lintas OPD ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam membangun sektor pariwisata secara terpadu.

Dalam seminar tersebut dipaparkan secara komprehensif substansi dan arah kebijakan RIPPDA dan RIPOW yang akan menjadi pedoman pembangunan pariwisata Kabupaten Tolikara selama lima tahun ke depan. Kedua dokumen perencanaan ini disusun untuk memastikan pengembangan pariwisata berjalan terarah, berbasis potensi lokal, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan dan kelestarian budaya.

Wakil Bupati Tolikara Yotam Wonda menyampaikan apresiasi kepada tim penyusun atas tersusunnya dokumen RIPPDA dan RIPOW yang dinilai sangat strategis. Ia menegaskan bahwa kedua dokumen tersebut memberikan gambaran yang jelas mengenai arah pembangunan pariwisata daerah. “Dokumen RIPPDA dan RIPOW ini memberikan gambaran yang jelas dan terarah tentang pembangunan pariwisata Kabupaten Tolikara untuk lima tahun ke depan, termasuk penetapan titik-titik pusat pengembangan fasilitas destinasi wisata yang terintegrasi,” ujarnya.

Menurut Wakil Bupati, pengembangan pariwisata Tolikara tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi daerah, tetapi juga harus berpijak pada nilai-nilai sejarah iman dan identitas budaya masyarakat setempat. “Pengembangan pariwisata Tolikara tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi daerah, tetapi juga harus menjaga dan melestarikan sejarah iman serta identitas budaya masyarakat Tolikara,” katanya.

Ia juga menyoroti substansi RIPOW yang memuat narasi perjalanan para misionaris dalam membawa Injil ke Lembah Toli atau Black Valley. “Melalui RIPOW, kita menegaskan kembali nilai sejarah perjalanan para misionaris dalam membawa Injil ke Lembah Toli yang memiliki makna spiritual sangat penting bagi masyarakat dan Gereja Injili di Indonesia,” ujar Yotam Wonda.

Untuk memperkuat pengembangan destinasi, Pemerintah Kabupaten Tolikara mendorong percepatan terwujudnya wisata festival etnik religi melalui kolaborasi lintas OPD, khususnya dalam penyusunan rencana kerja dan penganggaran. “Pemerintah daerah mendorong percepatan terwujudnya destinasi wisata festival etnik religi melalui kolaborasi lintas OPD, khususnya dalam penyusunan rencana kerja dan penganggaran yang terintegrasi,” ucapnya.

Sebagai penguatan identitas Tolikara sebagai Tanah Injil, Wakil Bupati juga mengungkapkan rencana pembangunan tugu salib di puncak Tagalapaga dengan ketinggian 50 hingga 100 meter. “Pembangunan tugu salib di puncak Tagalapaga direncanakan sebagai simbol bahwa Tolikara adalah Tanah Injil dan tempat lahirnya Gereja Injili di Indonesia, dari mana pekabaran Injil menyebar hingga ke berbagai daerah bahkan ke mancanegara,” jelasnya.

Sementara itu, Asisten II Setda Kabupaten Tolikara Dr. Imanuel Gurik menyampaikan apresiasi kepada tim Lembaga Pariwisata Indonesia dan Dinas Pariwisata Kabupaten Tolikara atas kerja profesional dalam penyusunan dokumen perencanaan tersebut. “Kami menyampaikan terima kasih kepada tim Lembaga Pariwisata Indonesia dan Dinas Pariwisata Kabupaten Tolikara atas kerja profesional dalam menyusun dokumen RIPPDA dan RIPOW yang komprehensif dan sistematis,” katanya.

Ia menilai substansi dokumen tersebut telah menggambarkan secara runtut sejarah perjalanan misionaris di Lembah Toli sekaligus memetakan potensi pengembangan pariwisata daerah secara menyeluruh. “Substansi dokumen ini telah menggambarkan secara runtut sejarah perjalanan misionaris di Lembah Toli sekaligus memetakan potensi pengembangan pariwisata daerah secara menyeluruh,” ujarnya.

Imanuel Gurik juga mengungkapkan rencana pemerintah daerah untuk mendeklarasikan tanggal masuknya Injil di Lembah Toli yang akan ditetapkan sebagai hari besar umat GIDI dan diisi dengan berbagai atraksi seni dan budaya. “Pemerintah daerah berencana mendeklarasikan tanggal masuknya Injil di Lembah Toli yang akan ditetapkan sebagai hari besar bagi umat GIDI dan diisi dengan berbagai atraksi seni dan budaya,” katanya.

Selain wisata religi, ia menegaskan bahwa Tolikara memiliki potensi wisata alam dan budaya yang sangat beragam, mulai dari danau, air terjun, sumber air panas alami, wisata paralayang hingga kekayaan seni budaya lokal. “Selain wisata religi, Tolikara memiliki potensi wisata alam dan budaya yang sangat kaya yang harus dikembangkan secara berkelanjutan,” tuturnya.

Menurutnya, pengembangan seluruh potensi tersebut harus tetap menjaga kelestarian alam dan keaslian budaya. “Budaya adalah napas hidup dan jati diri setiap suku, sehingga tata cara hias badan dan atraksi budaya suku Lani dan Mamberamo harus dijaga keasliannya agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.

Dengan tersusunnya RIPPDA dan RIPOW Kabupaten Tolikara Tahun 2026–2029, Pemerintah Kabupaten Tolikara berharap pembangunan pariwisata ke depan dapat berjalan lebih terarah, berkelanjutan, serta memperkuat identitas Tolikara sebagai daerah religi, budaya, dan alam yang bermartabat. (Diskomdigi Tolikara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *