Menuju 2026, FER Tolikara Diproyeksikan Jadi Strategi Pariwisata Berbasis Iman dan Budaya

Budaya, Fokus, Religi81 Dilihat

TOLIKARA — Festival Etnik Religi (FER) Tolikara diwacanakan akan mulai digulirkan pada tahun 2026. Wacana tersebut mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) persiapan FER Tolikara yang menegaskan bahwa festival ini tidak sekadar dirancang sebagai agenda tahunan, melainkan sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah berbasis iman, budaya, dan kebersamaan masyarakat Papua.

Dalam FGD tersebut, FER Tolikara direncanakan untuk berkolaborasi dengan dua agenda besar pariwisata Papua, yakni Festival Danau Sentani (FDS) dan Festival Lembah Baliem (FLB). Kolaborasi ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat pengembangan pariwisata Papua yang bermartabat, berkelanjutan, dan berakar pada nilai-nilai lokal.

FGD dihadiri langsung oleh Bupati Tolikara Willem Wandik bersama Sekretaris Daerah, para Asisten Setda, serta pimpinan perangkat daerah terkait, khususnya Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tolikara dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tolikara. Kehadiran pimpinan daerah tersebut menegaskan bahwa FER diposisikan sebagai kebijakan lintas sektor yang menyentuh aspek budaya, lingkungan, ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan.

Forum ini juga melibatkan pemangku kepentingan lintas daerah dan lintas institusi, di antaranya Dinas Pariwisata Provinsi Papua, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jayapura, serta asosiasi pariwisata seperti Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) dan Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA). Dari kalangan akademisi, kontribusi pemikiran turut disampaikan oleh lembaga penelitian dan kajian Universitas Cenderawasih, yang menyoroti pentingnya pengembangan pariwisata berbasis iman, budaya, dan lingkungan.

Keterlibatan pemerintah, pelaku industri pariwisata, asosiasi profesi, dan akademisi dalam satu forum dinilai sebagai fondasi penting agar FER Tolikara 2026 tidak hanya sukses sebagai sebuah event, tetapi juga kuat sebagai model pembangunan pariwisata Papua yang berintegritas dan berkelanjutan.

Sebagai wilayah di Papua Pegunungan, Tolikara memiliki kekhasan sosial dan spiritual yang kuat. Iman hidup dalam keseharian masyarakat dan tercermin dalam etos hidup saling menolong, menghormati alam, menjaga relasi sosial, serta memuliakan Sang Pencipta melalui kerja dan pengabdian. Budaya pun tidak dipandang sebatas pertunjukan, melainkan identitas yang diwariskan lintas generasi. Dari kesadaran inilah wacana FER Tolikara dibangun.

FGD juga menegaskan bahwa festival bukan tujuan akhir, melainkan instrumen strategis pembangunan. Melalui festival, iman dikuatkan, budaya dilestarikan, dan ekonomi rakyat digerakkan secara adil dan inklusif. Perancangan festival secara partisipatif diyakini akan memperkuat rasa memiliki masyarakat sekaligus menjamin keberlanjutan program.

Kolaborasi FER dengan FDS dan FLB dipandang mempertegas semangat kebersamaan Papua. FDS dikenal dengan tata kelola festival berbasis komunitas dan budaya danau, sementara FLB menegaskan identitas Papua Pegunungan melalui atraksi tradisi dan solidaritas antarsuku. FER melengkapi keduanya dengan dimensi etnik-religi, yakni iman yang dirayakan dalam budaya dan budaya yang dimaknai dalam iman.

Sinergi FER–FDS–FLB bukan untuk menyeragamkan identitas, melainkan saling menguatkan. Kolaborasi ini membuka ruang berbagi praktik terbaik pengelolaan festival, promosi bersama, kurasi atraksi lintas wilayah adat, hingga pengembangan ekonomi kreatif lokal melalui kalender event Papua yang terintegrasi.

Dari sisi ekonomi, festival diharapkan membuka ruang perputaran ekonomi lokal yang nyata. Pelaku UMKM, pengrajin, petani, musisi, penari, pemandu wisata, hingga pelaku kuliner tradisional memperoleh manfaat langsung, dengan prioritas bagi Orang Asli Papua. Ekonomi festival diarahkan tumbuh dari kampung, dirasakan di kampung, dan memperkuat martabat warga.

FGD juga menyoroti peran strategis generasi muda sebagai aktor utama masa depan festival, terutama dalam kurasi program, produksi kreatif, dokumentasi digital, dan promosi media sosial. Sementara itu, aspek lingkungan ditegaskan sebagai bagian tak terpisahkan melalui penerapan etika ekologis, pengelolaan sampah, dan edukasi pengunjung berbasis kearifan lokal.

Wacana FER Tolikara 2026 dan kolaborasi FER–FDS–FLB dinilai sebagai praktik gotong royong modern yang memadukan kebijakan, partisipasi masyarakat, iman, dan budaya. Dari ruang diskusi, Papua diharapkan melangkah ke ruang aksi menyiapkan panggung yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga bermakna dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (diskomdigi Tolikara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *