Kepala Bappeda Tolikara Tekankan Pentingnya Tata Kelola Pelayanan Gereja Sesuai AD/ART GIDI

Budaya, Fokus, GIDINews, Religi365 Dilihat

Kanggime, WestPasific— Momen penutupan Konferensi Klasis Kanggi ke-10 yang diwarnai dengan acara bakar batu menjadi ajang refleksi dan penyampaian sejumlah arahan penting terkait pembangunan gereja dan kemitraan antara lembaga keagamaan dengan pemerintah daerah.

Dalam sambutannya, Dr. Imanuel Gurik, SE, M.Ec.Dev seorang kader GIDI yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tolikara menekankan bahwa proses pendirian jemaat, klasis, maupun wilayah baru harus senantiasa merujuk pada pedoman organisasi yang tertuang dalam AD/ART GIDI, atau yang lebih dikenal sebagai Buku Merah.

Ia mengingatkan bahwa pembentukan unit-unit pelayanan gereja tidak boleh dilakukan secara sembarangan, melainkan berdasarkan pertumbuhan jemaat dan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten di bidang teologi.

“Setiap struktur pelayanan memiliki tanggung jawab berjenjang — dari jemaat ke klasis, klasis ke wilayah, dan wilayah ke Badan Pekerja Pusat (BPP). Perluasan pelayanan harus mempertimbangkan pertumbuhan spiritual dan kapasitas SDM, bukan hanya semangat semata,” ujarnya dengan tegas.

Pemerintah daerah juga menyampaikan permintaan kepada para pengurus gereja di Wilayah Toli, Kembu, dan Bogo untuk segera menyerahkan data terperinci mengenai jemaat, gembala jemaat, dan gembala daerah. Pendataan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap para pelayan Tuhan dan bagian dari langkah pembangunan berbasis data yang akurat.

Di samping itu, rencana rehabilitasi lokasi-lokasi strategis seperti bukit-bukit doa yang menjadi cikal bakal penyebaran Injil di wilayah ini juga tengah disusun. Lokasi tersebut nantinya akan dibangun kembali sebagai tempat doa sesuai dengan semangat awal pelayanan GIDI.

Dalam arahannya, Kepala Bappeda juga menyinggung pentingnya menjaga dan melestarikan rumah-rumah peninggalan para misionaris terdahulu. Ia menekankan agar bangunan-bangunan bersejarah tersebut tidak difungsikan sebagai hunian pribadi, melainkan direnovasi untuk menjadi situs wisata rohani yang dilengkapi dengan arsip foto serta narasi sejarah penyebaran kekristenan di Pegunungan Papua.

Sebagai penutup, beliau menyampaikan apresiasi kepada kepengurusan Klasis sebelumnya atas pengabdian yang telah diberikan, serta mengucapkan selamat kepada para pengurus baru yang baru saja dilantik. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan gereja sangat penting untuk mendukung kemajuan pelayanan rohani dan pembangunan masyarakat secara menyeluruh di Tanah Papua. (Diskominfo Tolikara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *