Oleh Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos
Festival Etnik Religi (FER) Tolikara bukanlah sekadar agenda perayaan budaya tahunan. Bagi kami di Tolikara, FER adalah pernyataan sikap, komitmen, sekaligus arah pembangunan daerah yang menempatkan iman, budaya, dan martabat manusia sebagai fondasi utama. Dalam kerangka visi pembangunan Tolikara 2024–2029, FER menjadi instrumen strategis untuk mewujudkan Tolikara sebagai Pusat Kerohanian dan Pusat Kebudayaan di Tanah Papua.
Secara historis dan sosiokultural, Tolikara memiliki posisi yang sangat khas sebagai Tanah Injil. Sejarah pengabaran Injil di jantung Tanah Papua telah membentuk identitas kolektif masyarakat Lembah Toli, di mana nilai-nilai kerohanian, adat istiadat, dan kehidupan komunal bertumbuh dan menyatu secara organik dalam praktik sosial sehari-hari. Identitas ini bukan sekadar narasi masa lalu, tetapi kekuatan hidup yang terus menjiwai cara masyarakat Tolikara membangun relasi sosial, pendidikan, dan kehidupan bersama.
Dalam konteks itulah, FER Tolikara harus dipandang sebagai instrumen pelestarian identitas budaya dan spiritual masyarakat. Festival ini menjaga kesinambungan nilai iman, adat, dan tradisi leluhur di tengah arus perubahan zaman yang kian cepat. Lebih dari itu, FER juga menjadi ruang aktualisasi kebudayaan yang hidup bukan museum budaya yang mempertemukan tradisi dengan tantangan masa depan secara bermartabat.
FER Tolikara juga kami tempatkan sebagai pengungkit ekonomi lokal berbasis komunitas. Melalui festival ini, pelaku UMKM, pengrajin noken dan ukiran khas pegunungan, petani rakyat, seniman budaya, serta generasi muda di kampung dan distrik memperoleh ruang nyata untuk menampilkan dan memasarkan keunggulan lokal Tolikara. Festival menjadi etalase ekonomi rakyat yang mempertemukan langsung produsen lokal dengan pengunjung, wisatawan, dan jejaring pasar yang lebih luas, sehingga mendorong perputaran ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.
Dampak ekonomi FER tidak berhenti pada transaksi selama festival berlangsung. Dalam perspektif pembangunan daerah, FER diharapkan melahirkan multiplier effect yang berkelanjutan mulai dari meningkatnya kebutuhan transportasi, akomodasi, konsumsi, hingga tumbuhnya jasa kreatif dan ekonomi pendukung lainnya. Semua ini bermuara pada peningkatan pendapatan masyarakat dan pemerataan manfaat ekonomi hingga ke tingkat kampung.
Pada saat yang sama, FER Tolikara juga memiliki dimensi diplomasi budaya. Melalui festival ini, Tolikara memperkenalkan dirinya sebagai wilayah yang damai, religius, inklusif, dan bermartabat, dengan kekayaan budaya dan spiritual yang hidup dalam praktik sosial masyarakat. FER menyampaikan pesan kemanusiaan universal kepada publik yang lebih luas, bahwa Tanah Papua adalah ruang peradaban yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan martabat manusia.
Atas dasar itulah, kolaborasi FER Tolikara dengan Festival Danau Sentani (FDS) menjadi langkah strategis. Festival Danau Sentani telah memiliki branding nasional yang kuat, konsistensi penyelenggaraan, serta jejaring promosi yang luas dengan pemerintah pusat, pelaku industri pariwisata, dan media nasional. Kolaborasi ini membuka ruang cross-promotion pariwisata budaya Tanah Papua secara terpadu, menghubungkan wilayah pesisir dan pegunungan dalam satu narasi kebudayaan yang utuh.
Melalui kolaborasi tersebut, Tanah Papua tidak lagi dipersepsikan secara parsial, melainkan sebagai satu ekosistem budaya yang saling terhubung dari pesisir hingga pegunungan yang kaya akan spiritualitas, kearifan lokal, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Pertukaran penampil budaya, kurasi bersama dengan tema besar “Spiritualitas, Alam, dan Martabat Manusia”, serta pengembangan paket wisata terpadu Sentani–Pegunungan Tolikara diharapkan mampu meningkatkan daya tarik dan lama tinggal wisatawan.
Selain itu, kolaborasi FER Tolikara dengan Festival Lembah Baliem memiliki dasar historis dan kultural yang sangat kuat. Keduanya berakar pada kebudayaan masyarakat Papua Pegunungan yang sama, dengan nilai hidup komunal, kepemimpinan adat, solidaritas sosial, serta relasi spiritual yang mendalam antara leluhur, alam, dan Sang Pencipta. Kolaborasi ini bersifat organik dan senafas, bukan sekadar kerja sama teknis antar-event.
Jika Festival Lembah Baliem merepresentasikan kekuatan adat dan tradisi leluhur Papua Pegunungan, maka FER Tolikara menghadirkan diferensiasi identitas sebagai Tanah Injil. Pertemuan keduanya membangun narasi kebudayaan yang utuh, di mana adat dan iman tidak dipertentangkan, melainkan saling menguatkan sebagai dua pilar peradaban. Dari sinilah wajah Papua Pegunungan ditampilkan sebagai ruang hidup yang beradat, religius, dan bermartabat.
Dalam dimensi sosial, FER Tolikara kami dorong sebagai ruang konsolidasi dan rekonsiliasi. Festival ini mempertemukan masyarakat lintas suku, lintas wilayah adat, dan lintas denominasi gereja dalam satu perjumpaan budaya dan iman yang setara. Di tengah sejarah panjang dinamika konflik di Tanah Papua, FER diharapkan menjadi ruang aman untuk membangun kembali kepercayaan sosial, memulihkan luka kolektif, dan menegaskan Tolikara sebagai Tanah Damai dan Tanah Doa.
Nilai religiusitas yang hidup di tengah masyarakat Papua tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai ornamen acara. Nilai-nilai itulah yang harus menjadi roh dan jiwa festival, menjiwai seluruh rangkaian kegiatan dan pesan yang disampaikan kepada publik. Dengan demikian, FER Tolikara dapat menjadi medium transformasi sosial yang menghadirkan pesan perdamaian, pengampunan, dan harapan.
Belajar dari berbagai festival budaya nasional seperti Festival Lembah Baliem, Jember Fashion Carnaval, Festival Ogoh-Ogoh, dan Festival Danau Toba, kita memahami bahwa keberhasilan festival ditentukan oleh konsistensi penyelenggaraan, kekuatan narasi, keberpihakan kepada masyarakat lokal, serta diferensiasi budaya yang mengakar. Pelajaran inilah yang menjadi dasar pengembangan FER Tolikara agar tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi tumbuh sebagai agenda budaya unggulan yang berkelanjutan.
Melalui forum FGD ini, kami mendorong lahirnya keputusan kebijakan strategis: penetapan FER Tolikara sebagai agenda budaya tahunan resmi daerah, pembentukan tim kurator budaya dan religi, integrasi FER dalam kalender pariwisata Papua, penguatan jejaring kolaborasi antarfestival, serta skema pembiayaan yang kolaboratif dan berkelanjutan. Dengan fondasi kebijakan yang kuat, FER Tolikara diharapkan benar-benar menjadi milik masyarakat, berdampak nyata bagi ekonomi rakyat, serta memperkuat citra positif Tanah Papua di tingkat nasional dan internasional.
Wa… Wa… Wa… Wa…
Willem Wandik, S.Sos
Bupati Tolikara










