Kanggime – Pemerintah Kabupaten Tolikara menegaskan komitmennya menjadikan wilayah Kabupaten Tolikara sebagai “Tanah Injil yang Damai” dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Gereja Injili di Indonesia (GIDI) yang berlangsung di Kanggime, Distrik Kanggime, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan, Kamis (12/2/2026).
Perayaan HUT GIDI ke-63 mengusung tema “Penginjilan Belum Selesai”. Peringatan tingkat wilayah Toli dipusatkan di dua lokasi, yakni Karubaga dan Kanggime. Jemaat GIDI dari sejumlah klasis terdekat berkumpul di Karubaga, sementara jemaat dari beberapa klasis lainnya mengikuti ibadah syukur yang dipusatkan di Kanggime.
Ibadah syukur peringatan HUT GIDI ke-63 dipimpin oleh Presiden Gereja GIDI Pendeta Usman Kobak, M.Th yang menyampaikan khotbah berdasarkan Injil Matius 28:19–20 tentang amanat penginjilan kepada seluruh umat.
Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos hadir dalam perayaan tersebut didampingi Wakil Bupati Yotam Wonda, SH, M.Si, Asisten I Samuel Kogoya, SH.,MM,.M.Ak, Asisten II Dr. Imanuel Gurik, SE, M.Ec.Dev serta sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) dan anggota TNI/Polri.
Dalam sambutannya, Bupati Tolikara menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menetapkan Tolikara sebagai Kabupaten Tanah Injil dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029. Penetapan tersebut disebut sebagai pengakuan resmi pertama dalam sejarah pemerintahan daerah di Tanah Papua yang dilandaskan pada sejarah rohani wilayah tersebut.
“Sejak kami menerima amanah memimpin Kabupaten Tolikara pada awal tahun 2025, kami menetapkan dalam RPJMD Kabupaten Tolikara 2025–2029 bahwa Tolikara adalah Kabupaten Tanah Injil. Ini adalah pengakuan resmi pertama dalam sejarah pemerintah daerah di Tanah Papua yang dilandaskan pada sejarah rohani tanah ini,” ujar Bupati Willem Wandik.
Ia menegaskan bahwa perayaan HUT GIDI bukan sekadar momentum seremonial, melainkan refleksi atas peran gereja dalam membangun peradaban masyarakat Papua, khususnya Orang Asli Papua (OAP).
“Hari ini adalah perayaan kasih Tuhan yang telah mengubah peradaban Orang Asli Papua, perayaan terang Injil yang mengangkat martabat dan masa depan masyarakat, serta perayaan damai sejahtera Kristus yang terus kita rawat di seluruh Tanah Papua,” katanya.
Menurutnya, Injil tidak hanya membawa keselamatan rohani, tetapi juga membentuk karakter masyarakat, memperkuat persaudaraan, serta mendorong keadilan dan kehidupan bermartabat. Ia menilai nilai-nilai Injil menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial dan perdamaian di Papua.
Dalam pidatonya, Bupati juga menyinggung situasi global yang penuh ketidakpastian, termasuk krisis ekonomi dunia, konflik bersenjata, dan kegelisahan generasi muda. Namun, ia mengajak masyarakat tetap berpegang pada nilai iman dan pengharapan.
“Sekalipun dunia bergoncang, rencana Allah tidak pernah goyah. Tuhan tidak merancang kehancuran bagi umat-Nya, melainkan masa depan yang penuh pengharapan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran gereja sebagai pembawa perdamaian di tengah konflik dan tantangan kemanusiaan. Menurutnya, gereja di Tanah Papua, termasuk GIDI, telah lama mengajarkan nilai rekonsiliasi dan persaudaraan.
“Gereja telah mengajarkan kita mengganti dendam dengan pengampunan, mengganti permusuhan dengan persaudaraan, dan mengganti kekerasan dengan rekonsiliasi. Sehingga kata yang paling kuat di Tanah Injil ini bukan ‘musuh’, melainkan ‘saudara’,” kata Bupati Wandik.

Bupati Tolikara juga menyoroti posisi GIDI sebagai gereja pribumi yang lahir dan berkembang di Tanah Papua serta telah menyebarkan pelayanan ke berbagai wilayah di Indonesia hingga mancanegara.
“GIDI tidak tumbuh sebagai tamu di negeri sendiri dan tidak bergantung pada pusat di luar negeri, tetapi berdiri mandiri di rumah sendiri dengan kekuatan budaya komunal yang berakar di Tanah Papua,” ujarnya.
Ia turut memaparkan sejarah panjang perkembangan GIDI yang dirintis sejak 12 Februari 1963 di Pegunungan Tengah Papua, serta peran misi Regions Beyond Missionary Union (RBMU) sejak 1957 dalam membuka pelayanan Injil, pendidikan, dan kesehatan di wilayah Tolikara.
Menurutnya, pemerintah daerah saat ini tengah menyusun dokumen peta sejarah masuknya Injil di Tolikara sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah dan warisan iman bagi generasi mendatang.
“Sejarah ini tidak hanya hidup dalam cerita lisan, tetapi harus menjadi warisan iman tertulis bagi generasi di Tanah Papua sepanjang masa,” katanya.
Dalam pidatonya, Bupati juga menyinggung perjalanan sejarah Papua yang penuh tantangan, termasuk konflik dan berbagai persoalan sosial yang berdampak pada masyarakat sipil. Ia menilai gereja selama ini hadir sebagai pelindung umat dan pembawa harapan di tengah situasi tersebut.
“Di tengah gelapnya sejarah itu, gereja tidak pernah pergi. Gereja tetap tinggal bersama umat, tetap menangis bersama rakyat, dan tetap berdiri ketika banyak pihak menjauh,” ujarnya.
Ia menyebut stabilitas dan keharmonisan di Kabupaten Tolikara merupakan anugerah yang harus dijaga bersama. Pemerintah daerah, kata dia, berkomitmen memperkuat landasan hukum untuk meneguhkan posisi Tolikara sebagai Kabupaten Tanah Injil secara permanen.
Sebagai bagian dari visi pembangunan daerah, Pemerintah Kabupaten Tolikara menargetkan terwujudnya masyarakat yang religius, berbudaya, mandiri, adil, dan sejahtera. Fokus pembangunan meliputi penguatan nilai keagamaan, pelestarian lingkungan berbasis adat, pembangunan infrastruktur merata, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan ekonomi masyarakat.
Bupati juga mengajak GIDI untuk terus berperan dalam pembinaan generasi muda, pembangunan pendidikan dan kesehatan, serta menjaga perdamaian di Tanah Papua.
“Kami berharap generasi masa depan Tolikara berdiri di atas tiga pilar utama, yakni kuat dalam fondasi iman, unggul dalam ilmu pengetahuan, dan mandiri dalam ekonomi,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi kepada para misionaris, pendeta, penginjil, dan seluruh pelayan gereja yang telah berkontribusi bagi perkembangan iman, pendidikan, dan perdamaian di Papua.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Tolikara, kami mengucapkan selamat ulang tahun ke-63 kepada Gereja Injili di Indonesia. Kiranya GIDI terus menjadi terang yang menerangi Tanah Papua, menjadi tiang damai bagi bangsa dan generasi, serta menjadi saluran berkat bagi seluruh masyarakat,” katanya.
Perayaan HUT ke-63 GIDI sekaligus pelaksanaan Sidang BPL GIDI di Kanggime berlangsung dengan dihadiri pimpinan gereja, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta umat dari berbagai wilayah di Papua.
Usai ibadah syukur, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pelantikan pengurus panitia Badan Pekerja Lengkap (BPL) Presiden GIDI. Berdasarkan rencana, Sidang BPL Presiden GIDI akan dilaksanakan di Kanggime pada November 2026. Ketua panitia BPL Presiden GIDI dipercayakan kepada Bupati Tolikara Willem Wandik bersama jajaran kepanitiaan lainnya. (Diskomdigi Tolikara)














