Natal Menguatkan Iman Keluarga untuk Bangun Tolikara yang Ramah

Uncategorized15 Dilihat

Oleh: Dr. Imanuel Gurik, SE.,M.Ec.Dev
Asisten Bidang Ekonomi, Pembangunan dan SDM Setda Kabupaten Tolikara

Natal selalu hadir sebagai peristiwa iman yang agung dan penuh makna. Kelahiran Yesus Kristus bukan sekadar perayaan rohani tahunan, melainkan pesan ilahi yang menembus ruang dan waktu. Natal mengingatkan kita bahwa Allah tidak tinggal jauh di surga, tetapi berkenan hadir di tengah kehidupan manusia, masuk dalam realitas dunia melalui sebuah keluarga sederhana. Dari peristiwa inilah kita belajar bahwa keluarga adalah tempat pertama Allah bekerja, membentuk iman, karakter, dan masa depan suatu bangsa.

Tema “Natal Menguatkan Iman Keluarga untuk Bangun Tolikara yang Ramah” mengajak kita untuk memandang Natal secara utuh: sebagai kekuatan rohani sekaligus dorongan nyata untuk membangun kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya yang berkeadilan dan sejahtera. Tolikara yang ramah religius, berbudaya, mandiri, adil, dan sejahtera tidak mungkin terwujud tanpa keluarga-keluarga yang kuat di dalam iman dan nilai luhur.

Kita melihat bagaimana Yesus lahir dalam keluarga yang sederhana. Maria dan Yusuf bukan keluarga kaya atau berkuasa, tetapi mereka memiliki iman yang teguh dan ketaatan yang total kepada kehendak Allah. Dari keluarga inilah Sang Juruselamat hadir membawa terang bagi dunia. Pesan ini menegaskan bahwa kekuatan besar sering lahir dari tempat yang sederhana. Demikian pula Tolikara: pembangunan yang besar dan bermakna dimulai dari keluarga, kampung, dan komunitas kecil yang hidup dalam iman, kasih, dan tanggung jawab.

Iman keluarga adalah fondasi utama pembangunan manusia. Keluarga yang takut akan Tuhan akan melahirkan generasi yang jujur, disiplin, pekerja keras, dan peduli terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan daerah. Pembangunan bukan semata-mata soal infrastruktur, angka pertumbuhan ekonomi, atau besaran anggaran, tetapi tentang membangun manusia yang berkarakter dan bermartabat.

Natal mengajarkan kita tentang kasih yang merendahkan diri. Allah memilih lahir di palungan, tempat yang paling sederhana, untuk menunjukkan bahwa kasih sejati tidak mengenal sekat status sosial, suku, atau latar belakang. Nilai ini sangat relevan bagi Tolikara yang majemuk dalam suku, budaya, dan dinamika sosial. Tolikara yang ramah adalah Tolikara yang menjunjung tinggi persaudaraan, saling menghargai, dan hidup rukun dalam perbedaan.

Dalam konteks pembangunan daerah, iman yang hidup harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Iman tanpa perbuatan akan kehilangan maknanya. Karena itu, Natal memanggil kita semua pemerintah, gereja, tokoh adat, dan seluruh masyarakat untuk menjadikan nilai iman sebagai dasar etika pembangunan. Kejujuran dalam bekerja, keadilan dalam melayani, dan tanggung jawab dalam mengelola sumber daya adalah wujud nyata iman yang bekerja.

Keluarga yang kuat dalam iman juga akan mendorong kemandirian. Orang tua yang menanamkan nilai kerja keras dan tanggung jawab akan melahirkan anak-anak yang tidak mudah bergantung, tetapi berani berusaha dan berinovasi. Kemandirian ekonomi masyarakat Tolikara tidak lahir secara instan, tetapi melalui proses panjang pembentukan karakter sejak dalam keluarga. Natal mengingatkan kita bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan iman dan kejujuran akan diberkati Tuhan.

Selain itu, Natal juga menegaskan pentingnya keadilan sosial. Kabar kelahiran Yesus disampaikan kepada para gembala kelompok yang sering dianggap kecil dan terpinggirkan. Ini menunjukkan bahwa kasih Allah menjangkau semua orang, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan perhatian. Tolikara yang ramah adalah Tolikara yang memberi ruang dan kesempatan yang adil bagi seluruh warganya, tanpa kecuali. Pembangunan harus menyentuh kampung-kampung, keluarga-keluarga sederhana, dan mereka yang selama ini kurang terjangkau.

Budaya lokal Tolikara juga memiliki nilai-nilai luhur yang sejalan dengan pesan Natal: kebersamaan, gotong royong, saling menolong, dan menghormati kehidupan. Natal tidak menghapus budaya, tetapi meneranginya dengan kasih Kristus. Ketika iman dan budaya berjalan seiring, maka identitas masyarakat akan semakin kuat dan pembangunan akan berakar pada jati diri lokal. Inilah yang membuat Tolikara tidak hanya maju, tetapi juga bermartabat.

Natal mengajak kita merefleksikan peran masing-masing. Bagi keluarga, Natal adalah panggilan untuk memperkuat mezbah keluarga: doa bersama, komunikasi yang jujur, dan saling mengasihi. Bagi gereja, Natal adalah panggilan untuk terus mendidik umat agar iman diwujudkan dalam pelayanan sosial. Bagi pemerintah, Natal adalah pengingat bahwa setiap kebijakan dan program pembangunan harus berpihak pada kesejahteraan rakyat dan dikelola dengan integritas.

Tolikara yang ramah tidak dibangun dengan kemarahan, konflik, atau egoisme, tetapi dengan damai, dialog, dan kerja bersama. Damai Natal bukan damai yang pasif, melainkan damai yang aktif damai yang mendorong rekonsiliasi, menyembuhkan luka, dan membuka jalan bagi masa depan yang lebih baik. Dari keluarga yang berdamai dengan Tuhan dan sesama, akan lahir masyarakat yang rukun dan daerah yang stabil untuk bertumbuh.

Akhirnya, Natal memberi kita harapan. Di tengah berbagai tantangan pembangunan, keterbatasan, dan dinamika sosial, Natal menegaskan bahwa Allah tetap bekerja. Terang Natal tidak pernah padam. Selama iman keluarga dijaga, nilai kasih dihidupi, dan kerja pembangunan dilakukan dengan hati yang tulus, Tolikara akan terus melangkah menuju masa depan yang lebih adil dan sejahtera.

Kiranya Natal tahun ini sungguh menguatkan iman setiap keluarga, meneguhkan komitmen kita untuk membangun Tolikara yang ramah religius dalam iman, berakar dalam budaya, mandiri dalam usaha, adil dalam pelayanan, dan sejahtera bagi seluruh masyarakat.

Selamat Natal 25 Desember 2025.
Tuhan memberkati Tolikara dan semua keluarga di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *